Minggu, 26 Juli 2015

Sawah Uhak

Sawah di Uhak

Uhak, adalah salah satu desa terpencil yang terletak di Pulau Wetar, Kecamatan Wetar Utara, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Desa ini masih sangat terisolir. Akses ke dan dari desa ini hanya dapat dicapai dengan jolor (perahu motor kecil). Tidak ada jalan darat yang menghubungkan antara desa ini dengan desa tetangganya (Moning dan Lurang) sehingga transportasi menjadi hal yang sangat sulit. Komunikasi juga masih sukar karena belum ada fasilitas telepon. Penerangan listrik sudah cukup baik. Desa ini sudah memiliki genset yang dapat digunakan oleh seluruh rumah tangga di Uhak. Genset dan bahan bakar minyak disediakan oleh PT Batutua, salah satu perusahaan tambang tembaga yang sedang beroperasi di Wetar. Listrik ini menyala mulai pukul 18.00 hingga 06.00 WIT, tetapi kadang kala, suasana desa menjadi gelap gulita karena kekosongan BBM yang biasanya diambil dari Perusahaan BTR yang berlokasi di Lerokis, Desa Lurang. 

Program-program CSR dari PT Batutua, mencakup bidang pendidikan, kesehatan, layanan terhadap masyarakat dan livelihood. Salah satu program dari livelihood adalah pengembangan padi sawah di Uhak.

Senin, 26 Januari 2015

Kentang Dapat Dikembangkan di Dataran Rendah Pulau Wetar-Maluku

Hasil panen kentang di Lurang-dibagi atas 3 grade

PENDAHULUAN

Kentang tumbuh subur di kebun Lurang - Wetar
Kentang (Solanum tuberosum) merupakan tanaman dataran tinggi. Meskipun demikian, beberapa varitas kentang dapat ditanam di dataran rendah dan umbi yang dihasilkan juga tidak mengecewakan. Kentang juga masih menjadi barang langka di Pulau Wetar, sehingga untuk memenuhi kebutuhan terhadap konsumsi kentang maka kentang didatangkan dari Pulau Jawa meskipun harganya mahal.
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka petani ingin menanam kentang di Wetar dan terlebih dahulu diujicobakan di kebun percobaan PT Batutua Tembaga Raya. Terdapat 3 varitas yang diujicobakan yaitu Granola Lembang, Granola Australia dan varitas Granola Kembang ungu.
Syarat tumbuh kentang adalah pada iklim dengan curah hujan rata-rata 1.500 mm/tahun, lama penyinaran 9-10 jam/hari, suhu optimal 18-21 °C, kelembaban 80-90% dan ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl. Media tanam yang diperlukan agar kentang dapat tumbuh dengan subur, yaitu media tanam dengan struktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, berdrainase baik dan memiliki lapisan olah yang dalam dan pH antara 5,8-7,0.

METODE PENANAMAN DAN PEMELIHARAAN
Sumber bibit berasal dari Malang, Jawa Timur. Terdapat tiga bedeng percobaan, masing-masing untuk
Mama Agu Mawatis siap panen kentang
varitas Granola Australia, Granola Kembang Ungu dan Granola Lembang. Media tanam berupa campuran tanah dan kotoran ayam. Ketiga bedeng tersebut dilindungi dengan paranet untuk mengurangi intensitas cahaya matahari.  Tanaman kentang disiram sehari sekali, di pagi hari. Tidak menggunakan pestisida karena tanaman tumbuh sehat. Hama yang ada, semut merah yang memakan umbi kentang pada saat kentang siap dipanen sehingga muncul lubang pada umbi dan mengurangi kualitas umbi. Lokasi penanaman berada kurang 100 m dpl tetapi berhasil panen dengan umbi yang besar.


PANEN DAN KUALITAS UMBI KETANG
Kentang ditanam pada tanggal 17 Juni 2012 dan panen pada tanggal 4 September 2012. Umur panen ketiga varitas ini adalah 80 HST. Hasil panen ketiga varitas ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Varitas
Jumlah pohon
Hasil panen (Kg)
Total Panen (Kg)
Rata-rata berat per pohon (Kg)
Grade A
Grade B
Grade C
Granola Australia
11
2,4
0,8
0,3
3,5
0,32
Granola Kembang Ungu
  8
2,5
1,7
0,3
4,5
0,56
Granola Lembang
13
2,5
1,6
1,1
5,2
0,40
Total
32
7,4
4,1
1,7
13,2
0,41

Ibu Mery Maata sedang panen kentang di kebun Lurang-Wetar
Saat panen, umbi kentang dibagi atas 3 grade, yaitu paling besar dan berkualitas diberi grade A, medium diberi grade B, cacat dan berumbi kecil diberi grade C. Rata-rata berat per pohon untuk ketiga varitas ini adalah 0,41 kg/pohon. Jika dilihat per varitas maka rata-rata berat perpohon untuk Granola Kembang Ungu memiliki umbi yang lebih berat (0,56 kg/pohon), diikuti dengan Granola Lembang (0,40 Kg/pohon) dan terakhir Granola Australia (0,32 Kg/pohon). Berdasarkan data tersebut, hasil terbaik panen perdana kentang di kebun contoh adalah kentang Granola Kembang Ungu, terbaik kedua Granola Lembang dan terbaik ketiga Granola Australia.

Uji rasa dilakukan oleh Pak Rizal dari dapur BTR dan ibu Mia Soenan, manajer Comdev. Hasil uji menunjukkan, kentang goreng rasanya lebih gurih dan segar dibandingkan dengan kentang yang
1 pohon kentang, berat mencapai 0,56 kg
didatangkan melalui Kupang, NTT. Kentang ini juga renyah dan disukai oleh beberapa orang yang ikut menikmati kentang goreng tersebut. Karena itu, ke depan Comdev akan mencoba menanam kentang ini sekali lagi di kebun percobaan dan jika hasilnya baik maka selanjutnya akan direkomendasikan untuk ditanam di kebun petani di bawah monitoring dan evaluasi dari Comdev.

Kamis, 21 Maret 2013

Pahlawan Kesehatan dari Pulau Terselatan



Pulau Wetar dan Lirang

Pulau Wetar dan Pulau Lirang, termasuk dalam gugusan pulau-pulau terselatan Indonesia dan masih sulit untuk dijangkau baik melalui darat, laut maupun udara. Secara administratif, Wetar dan Lirang termasuk dalam Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Akses ke dan dari sana, hanya bisa menggunakan kapal laut. Itu pun hanya lancar pada bulan-bulan tertentu, sebab laut tidak akan bersahabat saat datang musim barat (awal November-akhir maret) untuk wilayah-wilayah barat Pulau Wetar dan musim timur (Mei-Oktober) untuk daerah-daerah timur . 

Tim Kesehatan Puskesmas Ustutun dan PT BTR-naik turun kapal dan perahu dari desa ke desa

Hubungan antardesa dan kampung hanya mengandalkan transportasi laut dengan menggunakan jolor dan ketinting. Transportasi ke luar Wetar dan Lirang dengan menggunakan kapal perintis. Sesekali, kapal ini akan mampir 1-3 jam di beberapa desa yang ada dermaganya. Karena transportasi laut yang masih jarang, maka tidaklah mengherankan jika penumpang manusia terlihat berbaur dengan ternak, hasil pertanian dan juga barang bawaan lainnya. 
 
Tidak ada jalan darat, kecuali jalan sekitar  Ilwaki (ibukota kecamatan Pulau Wetar) dan Desa Lurang. Agak sedikit beruntung, Pulau Lirang yang hanya memiliki 1 desa (Ustutun) dan 1 kampung (Manoha). Keduanya dihubungkan oleh jalan darat, sehingga masyarakat bisa bepergian melalui darat dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor.

Sarana dan pelayanan kesehatan untuk masyarakat masih sangat minim. Selain infrastruktur, kualitas dan kuantitas SDM di bidang kesehatan pun masih belum menggembirakan. Dari 23 desa yang tersebar di Pulau Wetar dan Lirang, hanya terdapat 2 puskesmas, yaitu Puskesmas Ilwaki di ibukota kecamatan   Wetar dan Puskesmas Ustutun yang berada di Desa Ustutun, Pulau Lirang.

Seorang suami menggendong bayinya yang diimunisasi oleh bidan

Kendala tersebut, tidak menyurutkan semangat pelayanan pasukan Puskesmas Ustutun untuk  terjun langsung melayani masyarakat dari desa ke desa, di wilayah kerja Puskesmas Ustutun. di bawah pimpinan Kepala Puskesmas, semua desa layanan mulai dari Uhak, Lurang, Naumatang, Esulit, Nabar, Erai, Ilmamau, Klishatu, Karbubu, Telemar, Ustutun dan Kampung Manoha berhasil mereka datangi. Dibantu 1 dokter dan 2 tenaga medik & penyuluh kesehatan Comdev PT Batutua Tembaga Raya (BTR), dalam satu tahun, mereka dapat melakukan kegiatan pelayanan kesehatan sebanyak 3 kali. Kegiatan yang mereka lakukan, adalah imunisasi, pemberian vitamin A, pelayanan KB, pembinaan kader, pengobatan umum, penyuluhan kesehatan bagi masyarakat umum dan anak SD serta operasi ringan. Untuk kegiatan tersebut, para  tenaga kemanusiaan ini tidak mendapatkan gaji atau honor. Mereka bekerja dengan sukarela dan tidak menuntut apa-apa. 


Penyuluhan kesehatan bagi anak-anak usia SD
Bidan Penina dari Pustu Lurang yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Lirang misalnya, dengan tulus membawa anak bungsunya yang masih berumur 4 tahun dan rela tinggal di dalam kapal layar selama kurang lebih satu minggu. Sementara Pak Ichan selaku pimpinan Puskesmas terlihat selalu ceria saat bekerja melayani masyarakat yang datang untuk berobat. Mereka  memang hebat, tidak menunggu pasien datang ke Puskesmas, tetapi berjalan dari desa ke desa untuk mencari dan menemukan  sesama yang memerlukan pertolongan. Mereka adalah mutiara, pahlawan langka yang menaklukkan kesenjangan di pulau-pulau terselatan yang belum disentuh oleh kemajuan teknologi. 

Pengobatan umum DPR-Dibawah Pohon Rindang