Jumat, 25 September 2015

Field Assesment: Potensi Sumberdaya Kecamatan Wetar Utara



        PENDAHULUAN
Biochar adalah arang yang dihasilkan ketika biomassa (lebih diutamakan sampah organik) dipanaskan tanpa atau dengan oksigen yang minimal. Proses ini sering disebut pyrolysis. Berbeda dengan material organik, biochar stabil dari ratusan hingga ribuan tahun jika bercampur dengan tanah, dan karbon yang stabil tersebut tidak terlibat pada proses siklus karbon. Biochar kaya akan komponen alkali (Ca, Mg, K) yang berkontribusi terhadap proses menetralkan keasaman tanah dan mampu mengurangi aktifitas zat yang merupakan racun bagi tanaman seperti alumunium dalam tanah[1].
Biochar berupa karbon yang tidak berubah yang sebagian besar akan tetap tidak berubah di tanah dalam periode waktu yang sangat lama. Petani dapat menyimpan karbon di dalam cara yang sederhana, tahan lama, dan aman dengan cara menaruh char tersebut di tanah. Sedangkan karbon tipe lain di dalam tanah akan cepat berubah menjadi karbon dioksida[2].
Sumber bahan organik lokal yang dapat digunakan antara lain sampah-sampah organik yang terbuang seperti kulit kakao, batok kelapa, sekam padi, serbuk gergaji, ranting-ranting pohon, dsb. Sampah-sampah organik ini dapat dibakar sehingga menghasilkan karbondioksida; mengalami degradasi atau pembusukan dengan kondisi aerob dengan Oksigen atau dengan kondisi anaerob tanpa Oksigen.
Penggunaan arang (biochar) dalam pertanian mulai dilirik sebagai salah satu praktek yang dapat membantu mempertahankan kesuburan tanah, seiring dengan isu pemanasan global akibat meningkatnya emisi karbondioksida (CO2) dan gas rumah kaca lain yang dapat membahayakan kelangsungan hidup manusia. Penambatan karbon dalam tanah diidentifikasi sebagai salah satu pilihan untuk mengurangi emisi karbondioksida. Dalam situasi yang bersamaan, penambatan karbon dalam tanah, ternyata dapat juga memperbaiki lahan-lahan pertanian yang kritis/miskin unsur hara yang diperlukan oleh tanaman. 

Praktek penggunaan biochar sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Meskipun arang yang digunakan tidak sama dengan biochar, petani telah lama menggunakan arang kayu untuk membakar ladang mereka. Di Timor Barat - NTT, kegiatan ini dikenal dengan istilah Koek Ai (geser atau sorong api), yaitu membakar tumpukan kayu di atas satu bidang tanah. Setelah tanah berwarna hitam, maka petani akan menggeser kayu yang sedang menyala dan membara tersebut ke lokasi berikutnya. 

Beberapa praktek penggunaan biochar di Indonesia yang dilakukan oleh UNPD Indonesia, bekerja sama dengan petani, lembaga dan pendamping petani membawa angin segar bagi petani. Dengan menggunakan biochar, masyarakat Ngata Toro (Desa Toro) di kawasan Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Selatan berhasil meningkatkan hasil produksi jagung mereka dibandingkan dengan hasil sebelumnya[3]
Biochar juga dapat digunakan sebagai energi alternatif untuk memasak sebagai pengganti kayu bakar atau minyak tanah. Tungku bersih yang menggunakan briket, lebih hemat dalam menggunakan kayu bakar dan lebih bersih dibandingkan dengan tungku batu.
UNDP bekerja sama dengan kelompok petani lokal, dampingan PT. Batutua Tembaga Raya (BTR) di Pulau Wetar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku untuk mengaplikasikan penggunaan biochar, baik dalam praktek-praktek pertanian maupun penggunaan tungku briket. Lokasi/desa yang dipilih adalah desa-desa yang masih menjadi lokasi kegiatan Community Development PT. BTR karena alasan teknis, yaitu sulitnya transportasi dari desa ke desa dan hanya mengandalkan transportasi laut. Desa-desa ini juga telah diidentifikasi, punya potensi untuk dijadikan sebagai lokasi aplikasi program, baik dari aspek bahan baku pembuatan briket (kayu tunggul, sekam padi, serbuk kayu, sekam padi, kulit pala, batok kelapa). Di samping itu, desa-desa ini juga sudah ada kelompok tani binaan budidaya tanaman sayuran, tanaman umur panjang, sawah dan peternakan ayam. Dengan demikian, kedua program ini dapat berjalan secara bersamaan, baik sebagai pembanding dalam mendapatkan hasil produksi pertanian maupun sebagai program baru yang dapat memberikan sumbangan kepada petani dan pemerintah daerah dalam bidang pertanian dan pengembangan energi alternatif.
Sebanyak enam desa yang telah di-asses untuk pengembangan program biochar semuanya berada di Kecamatan Wetar Utara, Kab. Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Keenam desa tersebut adalah: 1) Desa Uhak; 2) Desa Lurang; 3) Desa Naumatang; 4) Desa Esulit; 5) Desa Nabar; dan 6) Desa Erai.
Laporan ini bertujuan untuk menginformasikan identifikasi potensi yang ada di lapangan sebagai bahan kajian untuk implementasi program lebih lanjut, khususnya dengan UNDP yang memiliki program pengenalan penggunaan energi alternatif yang murah, yaitu arangbagi pertanian ddan briket arang sebagai bahan bakar tungku bersih dalam kegiatan masak-memasak di rumah tangga.


Pulau Wetar, adalah salah satu pulau terdepan dalam gugusan kepulauan Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste. Wetar terletak di laut Banda, sebelah utara Timor Leste dengan koordinat 7° 56′ 50″ LS, 126° 28′ 10″ BT.
Pulau Wetar termasuk dalam wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Saat ini, Pulau Wetar terbagi atas 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Wetar dengan ibukota Ilwaki, merupakan kecamatan induk, sedangkan 3 kecamatan pemekaran adalah Wetar Utara dengan ibukota Lurang, Wetar Barat ibukota Ustutun dan Wetar Timur ibukota Arwala.
Pulau Wetar, dapat diakses dari tiga arah, yaitu arah barat diakses dari Kota Kupang melalui transportasi laut atau dari Kota Kupang ke Kisar melalui jalur udara, dilanjutkan dengan jalur laut dari Kisar ke Pulau Wetar. Dari arah utara dapat diakses dari Kota Ambon ke Kisar dengan transportasi udara dan ke Pulau Wetar dengan transportasi laut. Dari arah timur diakses melalui pulau-pulau kecil yang ada di Provinsi Maluku (termasuk Pulau Kisar). Transportasi udara yang tersedia, yaitu penerbangan reguler PT Merpati Nusantara Airlines (MNA), tipe pesawat CN 250 dari Kota Ambon ke Pulau Kisar dan CN 212 dari Kota Kupang (Provinsi NTT) ke Pulau Kisar. Transportasi udara dari Kota Ambon berlangsung 2 (dua) kali seminggu, penerbangan perintis dari Kota Kupang berlangsung 1 (satu) kali seminggu. Ada juga transportasi laut milik PT Batutua Tembaga Raya – Batutua Kharisma Permai yang berlayar dari Wetar (Lurang) ke Atapupu (Belu-NTT) 2 kali seminggu, khusus untuk mengangkut karyawan perusahaan dan masyarakat lokal setempat.
Topografi Pulau Wetar umumnya berbukit dan terjal sehingga akses jalan darat antar desa masih sulit. Pemukiman juga hanya berada di pantai Pulau Wetar. Akses jalan hanya ada di Ilwaki dan Ustutun. Karena itu, hubungan antardesa di Wetar dilakukan hanya dengan mengandalkan perahu motor (jolor) masyarakat yang ada.
Tumbuhan mangrove yang dapat ditemui di pesisir Pulau Wetar sebanyak 15 spesies yang tergolong dalam 15 generasi dan 12 famili. Kelimpahan spesies mangrove di pulau ini ditunjukkan dengan kesamaan spesies tumbuhan mangrove yang ada di Nusa Tenggara dan Negara Timor Leste, yaitu mencapai 67%. Sementara kesamaan spesies antara pesisir Pulau Wetar dengan Pulau Yamdena sebesar 80%. Spesies mangrove yang menyebar di wilayah ekologis pesisir Pulau Wetar yaitu Sonneratia alba, Baringtonia asiatica, Hibiscus tiliaceus, Nypa fructicans dan Acanthus licifolius.
Sumberdaya alam lain adalah pala hutan (Myristica fatua), asam (Tamarindus indica) dan kenari (Canarium commune). Pohon ampupu (Eucalyptus alba) dan kosambi (Schleichera oleosa) juga tumbuh dalam areal yang cukup luas dan memberikan kontribusi nekhtar bagi lebah hutan. Madu hutan di Wetar sangat digemari karena berkualitas tinggi. Panen madu hutan dilakukan oleh masyarakat setempat sebanyak dua kali, yaitu pada masa berbunganya pohon ampupu (Mei-Juni) dan bulan Oktober-November pada saat pohon kosambi mulai berbunga.
Permasalahan pertanian di Pulau Wetar adalah sebagai berikut[4]:
  • Rendahnya jumlah dan kualitas sumber daya manusia.
  • Kondisi geografis yang memiliki rentang kendali yang panjang.
  • Pola pertanian yang tradisional.
  • Kondisi iklim yang panas.
  • Penanganan pasca panen belum dilakukan secara baik.
  • Ketersediaan infrastruktur penunjang.
  • Sarana dan prasarana produksi yang tidak terdapat di tingkat petani.
  • Berisiko kekurangan bahan pangan di tingkat keluarga.
  • Belum ada dan berfungsinya lembaga penyuluhan dan terbatasnya tenaga penyuluh.
  • Keterbatasan sumber pendanaan.
Kecamatan Wetar Utara merupakan kecamatan baru, hasil pemekaran dari kecamatan induk Wetar. Diresmikan oleh Bupati Maluku Barat Daya, Barnabas Orno pada tanggal 17 April 2013 di Lurang.  Kecamatan yang beribukota di Lurang ini, terdiri atas 6 desa, yaitu Desa Uhak, Lurang, Naumatang, Esulit, Nabar dan Desa Erai. Jumlah penduduk Kecamatan Wetar Utara menurut desa dapat dilihat pada tabel berikut:
No
Desa
Jumlah KK
Jumlah Jiwa
Laki-laki
Perempuan
Total
1
Uhak
 92
230
218
  448
2
Lurang
102
245
235
  480
3
Naumatang
 40
100
115
  225
4
Esulit
 46
 50
 46
    96
5
Nabar
 42
 42
 40
    82
6
Erai
 68
321
280
  601

Jumlah
390
988
934
1.932
Sumber: monografi desa (2013)
Kalender musim kegiatan dan peristiwa di Kecamatan Wetar Utara hampir sama.  Bulan basah dimulai dari Desember sampai Juni. Pada saat bulan basah, gelombang di Laut Banda sangat tinggi sehingga menyulitkan lalu lintas, khususnya pengguna perahu motor. Kondisi ini menyebabkan pasokan makanan ikut berkurang sehingga harga barang pun menjadi tinggi pada bulan-bulan tersebut. Musim kemarau merupakan musim panen untuk beberapa komoditas umur panjang seperti jeruk, pala hutan, jambu mente, madu hutan, lola dan batu laga. Kegiatan dan peristiwa yang terjadi di Kecamatan Wetar Utara dapat dilihat pada tabel berikut:
Uraian
Bulan ke
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Bulan basah
**
**
**
*
*
*





*
Bulan kering






*
*
**
**
*

Tanam jagung, ubi, kacang-kacangan
*
*
*








*
Panen jambu mete







*
*
*
*

Panen pala hutan








*
*


Panen jeruk





*
**
**
*
*


Panen madu hutan




*
*




*
*
Panen  lola dan batulaga








*
*


Panen sayuran dan buah semusim
*
*
*
*
**
**
*
*
*
*
*
*
Kekurangan bahan makanan
*
*
*









Musim berburu babi hutan





*
*
*
*
*


Musim kebakaran






*
*
*
*


Keterangan: ** = tinggi/banyak

IDENTIFIKASI POTENSI-POTENSI DESA TARGET
Uhak terletak di utara Pulau Wetar, menghadap ke Laut Banda. Jumlah penduduk Uhak pada tahun 2013 adalah 448 jiwa (92 KK). Mayoritas penduduknya beragama Kristen Protestan. Mayoritas penduduk bekerja sebagai petani-nelayan. Pekerjaan lain yang ditekuni adalah sebagai karyawan perusahaan BTR-BKP, guru SD dan usaha kios. Desa Uhak dihuni oleh penduduk asli suku Mawetars, Makesso dan Masnary. Sebagian lagi datang dari Siera, Alor dan Sulawesi Selatan pada tahun 1990-an.
Tanah di Uhak sebagian besar dikuasai oleh suku Mawetars, Makesso dan Masnary sebagai tanah ulayat dan tidak bersertifikat. Meskipun demikian, penduduk dari suku lain yang rata-rata pendatang dapat mengelola tanah ulayat dengan bebas, tanpa ada pungutan.
 Pada awalnya penduduk Desa Uhak hidup dari berburu binatang liar, mengumpulkan pala hutan, madu dan juga hasil laut seperti ikan, lola, teteruga (penyu) dan batulaga. Sistem bertanam padi sawah dan sayur-sayuran semusim baru dikenal setelah perusahaan BTR-BKP intensif melakukan pendampingan melalui program pengembangan masyarakat. 
 Bentuk permukaan tanah di Uhak tidak rata. Hanya areal pantai yang rata dan tidak luas. Lokasi ini menjadi areal pemukiman sekaligus sebagai tempat melakukan kegiatan pertanian dan peternakan. Kegiatan pertanian intensif yang dilakukan adalah bertanam sayuran dan buah semusim. Sebanyak 5 KK juga melakukan kegiatan bertanam padi sawah dalam luas lahan yang kurang dari 1 hektar.
Lahan pertanian yang diusahakan memiliki struktur lempung berpasir. Pada musim kemarau, permukaan tanah menjadi panas dan air mudah menguap sehingga petani harus menyiram tanamannya dua kali, pagi dan sore hari. Alat-alat pertanian yang digunakan masih sederhana, berupa cangkul, linggis dan parang. Sedangkan pengolahan padi sawah dilakukan dengan menggunakan traktor.
Bulan-bulan basah di Desa Uhak berkisar antara Desember hingga Juni. Curah hujan paling tinggi berkisar antara Januari hingga Maret. Secara umum, petani menanam jagung, kasbih (ubi kayu) dan tanaman pangan lainnya pada bulan Desember hingga Maret, sedangkan tanaman sayuran ditanam sepanjang musim karena ketersediaan air sepanjang musim. Transportasi sulit pada bulan-bulan basah karena gelombang laut sangat tinggi, sehingga masyarakat cukup kesulitan mendapatkan barang-barang kebutuhan hidup. 

Bulan-bulan kering berkisar dari Juli hingga November. Pada musim kemarau ini, petani giat mencari hasil-hasil hutan seperti madu dan pala hutan. Dua kegiatan ini biasanya dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh masyarakat desa setelah ada pengumuman resmi dari Kepala Desa.

Sumber energi untuk aktivitas memasak di dapur adalah kayu bakar (95%) dan minyak tanah (5%). Kayu bakar diperoleh dari alam sekitar. Masyarakat tidak menebang pohon untuk mengambil kayunya, tetapi memanfaatkan kayu-kayu kering yang ada di hutan atau pantai. Jenis tungku memasak yang umumnya dipakai adalah tungku batu alam atau batako.

Tidak ada lembaga keuangan mikro di Desa Uhak. Masyarakat melakukan kegiatan pinjam uang kepada tetangga atau ke tokoh-tokoh masyarakat setempat tanpa bunga. Pembentukan kelompok simpan pinjam bagi kaum perempuan yang dilakukan oleh PNPM-MP pada awal tahun 2013 juga belum terlaksana dengan baik. 
Kegiatan perdagangan di Uhak dilakukan oleh individu-individu dan lembaga. Barang-barang kebutuhan pokok dari luar daerah, biasanya diperoleh melalui pedagang-pedagang Bugis-Makasar, belanja langsung ke Atambua, Kupang dan Kalabahi di NTT. Juga dilakukan melalui Yayasan Ama Kefe yang merupakan lembaga binaan PT Batutua Tembaga Raya (BTR). Barang-barang hasil produk Desa Uhak berupa madu, pala hutan, jambu mente, jeruk dan sayur-sayuran juga dijual melalui individu dan lembaga yang ada. 
 Di Desa Uhak sudah terdapat kelompok tani binaan PT BTR sebanyak 30 anggota. Kelompok ini telah dibina untuk menyediaakan sayur-sayuran ke BTR. Juga melakukan kegiatan lain seperti kegiatan bertanam padi sawah, tanaman umur panjang dan peternakan ayam potong.

Sumber listrik Desa Uhak berasal dari tenaga diesel (genset desa), sumbangan dari PT BTR pada tahun 2007. Listrik hanya menyala dari pukul 18.00 hingga pukul 00.00 waktu setempat. Selain itu, beberapa keluarga memiliki genset pribadi. Digunakan sewaktu-waktu, jika listrik desa mati atau diperlukan pada siang hari. Saat ini, pasokan BBM listrik desa masih dibantu oleh BTR. Ada upaya pencarian dan penerapan energi terbarukan yang lebih murah dan ramah lingkungan, tetapi masih belum dilaksanakan oleh pihak perusahaan.

Desa Lurang menjadi ibukota Kecamatan Wetar Utara, hasil pemekaran kecamatan Wetar. Jumlah penduduk Lurang pada tahun 2013 adalah 480 jiwa (102 KK). Mayoritas penduduknya beragama Kristen Protestan, disusul dengan penduduk beragama Katolik. Penduduk Lurang bekerja sebagai petani-nelayan, juga ada yang berprofesi sebagai karyawan perusahaan BTR-BKP, guru TK, SD, SMP dan usaha kios. Sebagian besar penduduk Desa Lurang adalah pendatang dari NTT, Saumlaki, Sulawesi Selatan, Siera, Kisar, dsb. Mereka mulai menetap di Lurang pada tahun 1990-an, saat PT Prima Lirang Mas beroperasi di Lerokis, Lurang. Penduduk asli hanya sekitar 20 persen dari suku Mauauth, Mapuhu, Magoher, Kaisakur, Kailau, Manunu dan Mawatis.

Pada awalnya penduduk asli hidup dari berburu binatang liar, mengumpulkan pala hutan, madu, dan memancing ikan di laut. Sekarang mereka sudah mampu untuk bekerja sama dalam berbagai program yang dilakukan oleh PT BTR, yaitu bertanam sayuran, buah-buahan dan tanaman umur panjang (jambu mente, kakao, vanila, lada). 
Tanah-tanah di Desa Lurang belum punya sertifikat. Pemakaian tanah atas seijin tuan tanah atau pemerintah desa setempat. Tekstur tanah di Lurang umumnya lempung berpasir. Pengggunaan lahan yang terus-menerus menjadikan tanah kekurangan nutrisi. Petani Lurang sudah mengenal dan mengaplikasikan penggunaan pupuk dan pestisida, baik organik maupun kimia.
Bulan-bulan basah di Lurang biasanya terjadi pada bulan Desember hingga Juni. Sedangkan bulan-bulan kering berlangsung dari Juli hingga November. Kehidupan perekonomian Desa Lurang lebih baik pada bulan-bulan kering karena penduduk biasanya panen pala hutan, madu dan jambu mente. Hasil tangkapan ikan meningkat pada bulan-bulan kering karena gelombang tidak terlalu tinggi.
Sumber energi untuk aktivitas memasak di dapur adalah kayu bakar (90%) dan minyak tanah (10%). Jenis tungku memasak yang umumnya dipakai adalah tungku batu alam atau batako. Hanya sebagian orang yang menggunakan minyak tanah untuk memasak dengan memakai kompor minyak. Kayu api diperoleh dari alam sekitar. Penduduk mengambil kayu bakar yang sudah kering dari hutan sekitar atau dari kawasan pantai, memanfaatkan kayu kering yang terdampar di pinggir pantai.

Tidak ada lembaga keuangan mikro di Desa Lurang. Masyarakat melakukan kegiatan pinjam uang kepada tetangga atau ke tokoh-tokoh masyarakat setempat tanpa bunga. 
Kegiatan perdagangan di Lurang dilakukan oleh individu-individu dan lembaga. Barang-barang kebutuhan pokok dari luar daerah, biasanya diperoleh melalui pedagang-pedagang Bugis-Makasar, belanja langsung ke Atambua, Kupang dan Kalabahi di NTT. Juga dilakukan melalui Yayasan Ina Rifa yang merupakan lembaga binaan PT Batutua Tembaga Raya (BTR). Barang-barang hasil produk Desa Lurang berupa madu, pala hutan, jambu mente, jeruk dan sayur-sayuran juga dijual melalui individu dan lembaga yang ada. 
 Di Desa Lurang sudah terdapat kelompok tani binaan PT BTR sebanyak 35 anggota. Kelompok ini telah dibina untuk menyediakan sayuran dan buah ke BTR. Juga melakukan kegiatan lain seperti kegiatan bertanam tanaman umur panjang, beternak ayam potong dan ayam petelur.
Sumber listrik Desa Lurang berasal dari tenaga diesel (genset desa), sumbangan dari PT BTR pada tahun 2007. Listrik hanya menyala dari pukul 18.00 hingga pukul 00.00 waktu setempat. Selain itu, beberapa keluarga memiliki genset pribadi. Digunakan sewaktu-waktu, jika listrik desa mati atau diperlukan pada siang hari. Saat ini, pasokan BBM listrik desa masih dibantu oleh BTR. Ada upaya pencarian dan penerapan energi terbarukan yang lebih murah dan ramah lingkungan, tetapi masih belum dilaksanakan oleh pihak perusahaan. Hampir tidak ada lagi lampu petromax, lentera atau lampu pelita.

Desa Naumatang termasuk dalam Kecamatan Wetar Utara. Akses menuju Naumatang hanya dapat dilakukan dengan jolor (perahu motor), atau kapal layar motor. Letaknya berhadapan dengan Laut Banda.
Jumlah penduduk desa Naumatang sebanyak 225 jiwa dengan uraian 100 laki-laki dan 115 perempuan, 39 KK laki-laki dan 1 KK perempuan. Desa ini adalah desa transmigrasi dan sebagian besar penduduknya berasal dari Kisar. Jalan-jalan desa sudah dibuat rabat setapak dan ditanami dengan pagar hidup dari beluntas. Tata letak rumah mereka sudah teratur.
Tanaman pangan utama di Naumatang adalah jagung dan ubi kayu. Tanaman umur panjang yang penting adalah kelapa, pala hutan, pisang dan jambu mente. Jambu mente paling dominan dan hasilnya biasa dikumpulkan oleh pedagang pengumpul yang ada di desa  dengan harga Rp 6.500/kg biji mete (dengan kulit). 
 Sayuran juga sudah ditanam oleh petani walaupun hanya sedikit. Tanaman sayuran yang sudah pernah ditanam antara lain wortel, bawang merah, tomat, sawi dan kangkung. Lahan di sini juga potensial untuk dikembangkan persawahan karena memiliki sungai dan juga memiliki lahan rata yang dapat dijadikan sebagai sawah. Hanya saja, usulan dari masyarakat belum direspon oleh Pemda setempat. 
 Ternak dominan adalah babi dan ayam kampung. Sistem beternak masih dilakukan secara tradisional, babi dan ayam dilepas untuk mencari makan sendiri. Beberapa penduduk sudah mengikat babi di bawah pohon jambu mente dan kotoran babi dipendam dalam tanah di sekitar pohon jambu mente untuk pupuk.
Bulan-bulan basah di Naumatang biasanya terjadi pada bulan Desember hingga Juni. Sedangkan bulan-bulan kering berlangsung dari Juli hingga November. Kehidupan perekonomian Desa Naumatang lebih baik pada bulan-bulan kering karena penduduk biasanya panen pala hutan, madu dan jambu mente. Hasil tangkapan ikan juga meningkat pada bulan-bulan kering karena gelombang tidak terlalu tinggi.
Sumber energi untuk aktivitas memasak di dapur adalah kayu bakar (95%) dan minyak tanah (5%). Jenis tungku memasak yang umumnya dipakai adalah tungku batu alam. Minyak tanah hanya digunakan oleh sedikit keluarga, terutama pada musim hujan.
Belum ada lembaga keuangan mikro yang bisa menopang perekonomian masyarakat terutama untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat baik di bidang pendidikan, pemenuhan kebutuhan pokok maupun kebutuhan-kebutuhan lainnya. Masyarakat lebih banyak berusaha sendiri-sendiri dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ada beberapa guru bisa membantu memberikan pinjaman uang ketika masyarakat mengalami kebutuhan mendesak tanpa dikenakan bunga pinjaman. Kelompok arisan juga belum ada.
Sumber listrik Desa Naumatang berasal dari tenaga diesel (genset pribadi). Belum ada listrik desa atau PLN. Sebagian penduduk menggunakan lampu pelita untuk penerangan di malam hari. Belum ada program pengembangan energi di Desa Naumatang.
Jumlah penduduk Desa Esulit tahun 2013 sebanyak 46 KK dengan total penduduk 96 jiwa (50 laki-laki, 46 perempuan). Sebagian besar penduduk berasal dari Kisar dan Jampea-Sulawesi Selatan. Mayoritas warga desa beragama Protestan, beberapa penduduk asal Jampea beragama Islam. Desa ini memiliki satu SD dan satu SMP. Tidak ada jalan raya, kecuali jalan setapak (rabat jalan). Transportasi dari dan ke Desa Esulit hanya dapat dilakukan melalui laut, menggunakan perahu motor (jolor) milik para nelayan dan pedagang.
Sebagian besar rumah penduduk beratap seng dan berdinding tembok semen. Beberapa diantaranya telah memiliki genset dan antena parabola. Terdapat kios yang cukup besar sehingga harga barang di Esulit termasuk cukup murah dibandingkan dengan desa lain di Pulau Wetar.
Tanah pemukiman umumnya berpasir. Ladang petani yang jauh dari pemukiman, terletak di bukit-bukit dengan tanah berwarna merah kuning. Lahan pertanian di perbukitan ditanami dengan tanaman umur panjang. Lahan pertanian diolah dengan alat-alat pertanian yang sederhana seperti cangkul, parang dan besi gali/linggis. 

Petani Esulit umumnya hidup dari bertanam jagung dan ubi kayu untuk kebutuhan pangan sehari-hari. Sumber pendapatan, yaitu: jambu mente, kelapa dan pisang. Jambu mente paling dominan di Esulit. Hasil mente ditampung oleh pedagang pengumpul yang ada di desa dengan harga 6.500/kg biji mete dengan kulit. Ibu-ibu rumah tangga juga telah menanam sayuran meskipun hanya untuk dimakan. Sayuran yang sudah ditanam di Esulit antara lain kangkung, sawi, bayam, paria dan cabai. 
Desa Esulit mulai mengalami musim hujan pada bulan November hingga Mei. Kadang-kadang, hujan masih turun pada bulan Juni-Juli, saat hampir sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau. Bulan Januari (akhir), Februari dan Maret merupakan bulan-bulan dengan curah hujan tertinggi. Pada bulan-bulan basah, petani menanam jagung, kasbih dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Gelombang laut umumnya tinggi selama musim barat dan musim timur sehingga menghambat transportasi dari dan menuju Esulit. 

Bulan-bulan kering berkisar dari Juli hingga November. Pada musim kemarau ini, petani giat memanen hasil jambu mente. Sebagian petani mendatangkan saudara dari desa lain untuk membantu atau menyewa orang lain pada saat panen jambu mente. Petani baru mampu menjual hasil panennya berupa biji gelondongan (beserta kulit). Padahal biji mete kupas jauh lebih mahal. Petani merasa kesulitan untuk mengupas jambu mente dari kulitnya, sementara tenaga kerja juga kurang memadai, sebab pada musim ini, keluarga petani juga sibuk untuk memanen madu dan pala hutan.
Petani memasak dengan mengandalkan kayu bakar (sekitar 95%). Sisanya, 5% menggunakan minyak tanah. Kayu bakar diperoleh dari alam sekitar. Masyarakat tidak menebang pohon untuk mengambil kayunya, tetapi memanfaatkan kayu-kayu kering yang ada di hutan. Masyarakat juga memanfaatkan kayu-kayu kering yang terdampar di pinggir pantai sebagai kayu bakar. Sebagian besar penduduk mengumpulkan dan menyimpan kayu bakar di dapur sebelum musim hujan tiba sehingga pada musim hujan, mereka tetap menggunakan kayu bakar yang kering. Jenis tungku memasak yang umumnya dipakai adalah tungku batu alam. Tungku dibuat di atas para-para atau langsung diletakkan di atas tanah.
Tidak ada lembaga keuangan mikro di Desa Esulit. Untuk memperoleh uang kas, masyarakat melakukan kegiatan pinjam uang kepada tetangga atau ke tokoh-tokoh masyarakat setempat tanpa bunga. Beberapa petani meminjam uang kepada pedagang keliling (Makasar) dengan jaminan akan menjual atau memberikan sejumlah kilogram pala jika musim panen pala hutan tiba. Praktek-praktek ini, sama seperti sistem ijon di tempat lain, hanya saja sistem ijon yang ada di sini adalah memberikan jaminan hasil hutan berupa madu atau pala.

Kegiatan perdagangan di Esulit langsung dilakukan oleh individu-individu. Barang-barang kebutuhan pokok dari luar daerah, biasanya diperoleh melalui pedagang-pedagang Bugis-Makasar, belanja langsung ke Atambua, Kupang dan Kalabahi di NTT.
Sumber listrik Desa Uhak berasal dari tenaga diesel (genset pribadi). Listrik digunakan hanya pada malam hari. Sebagian masih menggunakan lampu pelita, lilin atau lampu lantera. Belum ada upaya dari pemerintah untuk mengadakan listrik yang murah untuk warga desa.

Desa yang dipimpin oleh L.F. Mamaga ini terdiri dari 42 KK dengan jumlah jiwa sebanyak 82orang, 42 penduduk berjenis kelamin laki-laki dan 40 perempuan. Seluruh jalan desa sudah dirabat, dibangun oleh program P2DTK sepanjang 700 m pada tahun 2009. Bantuan lain berasal dari PNPM-MP untuk membangun 4 ruang kegiatan belajar di SDN Nabar untuk tahun 2011.
Gedung Sekolah Dasar Nabar memiliki 3 orang guru, dipimpin oleh K.S. Abertus. Setiap guru bertanggung jawab untuk mengajar 2 kelas dalam waktu yang bersamaan.
Petani Nabar masih menggunakan alat pertanian sederhana: cangkul, parang dan linggis. Sistem bertani masih tradisional. Lahan disiapkan terlebih dahulu dengan membakar rumput/sampah dalam kebun. Setelah bersih, baru petani menanam jagung dan kasbih.
Potensi pertanian yang ada di Nabar, yaitu: jeruk, kelapa, pisang jambu mente, mangga, nangka, pala hutan. Jeruk paling dominan, hasilnya biasa dikirim ke Alor, NTT. Potensi lainnya: sukun, pinang, sagu.

Dari hasil diskusi, petani menginginkan untuk lebih terfokus pada pertanian tanaman sawah, sebab desa ini memiliki lahan yang luas dan sungai yang cukup untuk mengairi lahan sawah yang ada. Kepala Desa dan masyarakat pernah mengusulkan pembuatan irigasi kepada Pemda setempat tetapi belum ada tanggapan. Pada saat musim panen pala hutan, petani tidak memanfaatkan kulit biji pala. Mereka biasanya membuang kulit pala tersebut di sembarang tempat sehingga menjadi sampah. Potensi ini sebenarnya dapat dimanfaatkan, dibakar sebagai arang lalu ditanam di kebun petani. Gambar 1 sampai 4 menunjukkan proses pemisahan pala dari fuli (bunga), kulit dan penjemuran fuli pala untuk menurunkan kadar air fuli sebelum dijual kepada pedagang keliling.



Musim penghujan dimulai dari akhir Oktober hingga April, tetapi hujan masih turun hingga bulan Agustus. Gelombang laut sangat tinggi pada bulan Desember hingga Maret. Pada bulan-bulan tersebut, transportasi laut menjadi sangat sulit. Hanya kapal besar yang bisa berlayar di sekitar Wetar, sehingga pasokan kebutuhan hidup sehari-hari juga menjadi langka.
Sumber energi untuk aktivitas memasak di dapur adalah kayu bakar (95%). Kadang-kadang penduduk menggunakan kompor minyak tanah (5%), terutama pada musim hujan, saat kayu api basah. Jenis tungku memasak yang umumnya dipakai adalah tungku batu alam. Kayu api diperoleh dari alam sekitar. Penduduk mengambil kayu bakar yang sudah kering dari hutan sekitar atau dari kawasan pantai, memanfaatkan kayu kering yang terdampar di pinggir pantai.

Lembaga keuangan mikro tidak ada di Desa Nabar. Masyarakat melakukan kegiatan pinjam uang kepada tetangga atau ke tokoh-tokoh masyarakat setempat tanpa bunga. Pelayanan kebutuhan sehari-hari dilakukan oleh pedagang kios dan juga oleh pedagang keliling, suku Bugis-Makassar yang biasa membawa barang-barang dagangannya dari desa ke desa, termasuk Desa Nabar.
Belum ada kelompok tani binaan PT BTR. Ada kelompok tani dan peternak, tetapi hanya sekedar untuk menerima bantuan benih dan ternak dari pemerintah daerah setempat, lalu tidak aktif lagi. Perusahaan BTR juga belum melakukan kegiatan pertanian secara intesif di Nabar, kecuali kegiatan imunisasi dan pengobatan umum.

Desa Nabar belum memiliki listrik desa, juga tidak ada penerangan dari PLN. Beberapa rumah tangga menggunakan listrik sendiri (genset pribadi). Penerangan di malam hari masih mengandalkan lampu dinding atau lilin. Selain itu, ada rumah penduduk asal Jampea Sulawesi yang menggunakan solar cell sebagai penerangan.
Desa Erai yang dipimpin oleh Simon Managa ini terdiri dari 68 KK, dengan jumlah penduduknya sebanyak 601 jiwa (321 laki-laki dan 280 perempuan). Dari pengamatan, jalan desa sudah dibuat dalam bentuk rabat/jalan setapak (80%). Sebagian besar rumah penduduk beratap seng dan dinding dari tembok semen. Kantor desa dimanfaatkan dengan baik. Setiap pertemuan selalu dilakukan di kantor desa. Ada juga gedung gereja Protestan yang dipimpin oleh Pdt Ishak Letlora. Gereja ini juga menjadi salah satu pusat kegiatan masyarakat setempat. SD Negeri Erai memiliki 4 orang guru, di bawah pimpinan Markus Pookey.
Desa Erai memiliki dua sumber air yang mengalir sepanjang musim. Potensi air ini sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian selain untuk kepentingan air minum, masak, dan MCK. Meskipun demikian, sungai mengalir begitu saja sampai ke laut. Belum ada yang memanfaatkan aliran air ini untuk aktivitas pertanian.
Potensi lain, ibu-ibu rumah tangga dapat menganyam berbagai alat rumah tangga dan perabot dari daun lontar. Berbagai alat rumah tangga seperti tikar, penampih beras, bakul dan tempat sirih pinang dapat dibuat dari daun lontar yang kering.
Potensi pertanian yang ada di Erai: jeruk, jambu mente dan mangga. Potensi lainnya: pisang, lontar dan asam. Bantuan yang pernah diperoleh dari Dinas Pertanian dan Peternakan adalah: benih sawi, kangkung, tomat, kacang tanah, bawang merah, pupuk urea dan peralatan seperti cangkul, parang dan gembor. Bantuan bibit dan pupuk dari dinas pertanian dan peternakan tidak dilakukan karena menurut petani, mereka tidak tahu cara mengaplikasikannya di lahan.
Dari hasil diskusi, petani menginginkan untuk lebih terfokus pada peternakan, tanaman umur panjang (jeruk, jambu mente, kakao) dan tanaman sayur-sayuran, tetapi petani memerlukan pendampingan yang cukup teratur untuk dapat mewujudkan impian mereka.
Ternak dominan adalah babi. Sistem beternak masih dilakukan secara tradisional, babi dilepas untuk mencari makan sendiri. Bantuan yang pernah diperoleh dari dinas Pertanian dan Peternakan adalah babi dan kambing.
Bulan-bulan basah di Erai biasanya terjadi pada bulan Desember hingga Juni. Sedangkan bulan-bulan kering berlangsung dari Juli hingga November. Kehidupan perekonomian Desa Erai lebih baik pada bulan-bulan kering karena penduduk biasanya panen pala hutan, madu dan jambu mente. Hasil tangkapan ikan juga meningkat pada bulan-bulan kering karena gelombang tidak terlalu tinggi.
Sumber energi untuk aktivitas memasak di dapur adalah kayu bakar (95%) dan minyak tanah (5%). Jenis tungku memasak yang umumnya dipakai adalah tungku batu alam. Minyak tanah hanya digunakan oleh sedikit keluarga, terutama pada musim hujan.
Belum ada lembaga keuangan mikro yang bisa menopang perekonomian masyarakat terutama untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat baik di bidang pendidikan, pemenuhan kebutuhan pokok maupun kebutuhan-kebutuhan lainnya. Masyarakat lebih banyak berusaha sendiri-sendiri dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ada beberapa guru bisa membantu memberikan pinjaman uang ketika masyarakat mengalami kebutuhan mendesak tanpa dikenakan bunga pinjaman. Kelompok arisan juga belum ada.
Sumber listrik Desa Erai berasal dari tenaga diesel (genset pribadi). Belum ada listrik desa atau PLN. Sebagian penduduk menggunakan lampu pelita untuk penerangan di malam hari. Belum ada program pengembangan energi di Desa Erai.


Dari kajian terhadap potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang ada, maka direkomendasikan untuk memperkenalkan program tungku bersih dan penggunaan arang dalam praktek pertanian di Kecamatan Wetar Utara yang meliputi enam desa. 

Demikian laporan hasil asesmen untuk “Biochar Project Scale Up di Kecamatan Wetar Utara, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Masukan dari Bapak-ibu, sangat diharapkan untuk perbaikan kegiatan dan pelaporan di masa mendatang.
Terima kasih.

Lurang, Oktober 2013

Gregorius Nafanu
Comdev BTR




[1][1] TOR Inisiatif Pengembangan Pemanfaatan Biochar dalam Bidang Pertanian dan Sumber Energi untuk Tungku Bersih, oleh UNDP Indonesia dengan Komunitas Masyakat Lokal dan Pendamping Komunitas.
[2][2] Wawancaran Jeremy Hance dengan Laurens Rademakers dari Biochar Fund. ‘Dapatkah Biochar Selamatkan Dunia?’. http://indonesia.mongabay.com/news/2010/id0901-0816-hance_rademakers.html
[4][4] Power point ‘Pembangunan Pertanian di Pulau Wetar’ oleh Kadistannak Kab. Maluku Barat Daya. Tahun 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar